Total Tayangan Halaman

Senin, 25 April 2011

TUJUAN PENDIDIKAN DALAM PERSPEKTIF ISLAM

Apakah yang dikatakan tujuan pendidikan? Bagaimana merumuskan tujuan pendidikan? Mungkinkah tujuan pendidikan dalam suatu masyarakat sama? Bagaimana tujuan pendidikan dalam perspektif Islam? Untuk
memahami semua itu, silakan pelajari uraian berikut!

BAB III

TUJUAN PENDIDIKAN

DALAM PERSPEKTIF ISLAM




A. Pendahuluan
                Pendidikan adalah usaha sadar yang sengaja dilakukan untuk mencapai suatu tujuan tertentu. Dilihat dari sisi pelakunya, pendidikan merupakan suatu upaya untuk mengubah manusia dari suatu kondisi tertentu menjadi manusia yang memiliki suatu bentuk kepribadian tertentu. Sementara itu, dilihat dari sisi anak didiknya, pendidikan merupakan suatu usaha untuk membantu manusia dalam mencapai tujuan hidupnya.
                Perumusan tujuan menjadi salah satu masalah pokok dalam pendidikan. Rumusan tujuan menjadi pembimbing dan pemberi arah bagi aktivitas pendidikan. Tanpa rumusan yang jelas tentang tujuannya, perbuatan mendidik menjadi tidak terarah. Di samping itu, rumusan tujuan tersebut juga akan menjadi tolok ukur dalam mengevaluasi hasil pelaksanaan pendidikan yang telah diselenggarakan. Keberhasilan pendidikan ditentukan oleh seberapa jauh aspek-aspek dan indikator yang ada dalam rumusan tujuan telah tercapai.
                Tujuan pendidikan merupakan suatu keadaan ideal (das sollen) yang hendak diwujudkan pada anak didik melalui aktivitas pendidikan. Rumusan tujuan pendidikan berkaitan langsung dengan masalah norma atau pandangan hidup yang merupakan masalah filsafat, khususnya filsafat tentang manusia.[1] Bentuk kepribadian yang diidealkan tersebut bergantung pada filsafat hidup masyarakat atau pribadi yang bersangkutan. Ia identik dengan tujuan hidup manusia menurut pandangan paham tertentu. Perbedaan pandangan tentang manusia ideal yang dicita-citakan meniscayakan perbedaan rumusan tentang tujuan pendidikan.
                Masing-masing masyarakat, bahkan masing-masing individu, memiliki pandangan tersendiri tentang manusia ideal yang diinginkannya. Mereka memiliki kriteria yang berbeda tentang manusia yang baik. Mungkin saja, suatu masyarakat memandang bahwa manusia yang baik adalah mereka yang mempunyai fisik yang kuat atau memiliki kemampuan intelektual yang tinggi.[2] Sementara yang lain mungkin ada yang berpendapat bahwa manusia yang baik adalah mereka yang dapat menciptakan lapangan kerja atau menghasilkan uang yang banyak. Dengan demikian, tujuan pendidikan sudah pasti akan berbeda pada setiap kelompok masyarakat sesuai dengan filsafat dan pandangan hidup yang mereka anut.
                Berkenaan dengan masalah tersebut, menarik untuk diperhatikan bahwa meskipun sumber ajaran Islam hanya satu, namun berbagai literatur mengenai pendidikan Islam mengemukakan bermacam-mcam rumusan tentang tujuan pendidikan dalam perspektif Islam seperti membentuk manusia yang baik, bertakwa, berakhlak mulia, berkepribadian Muslim, insan kamil, dan lain-lain.[3] Jika dicermati lebih jauh, semua ungkapan ini bersifat terlalu umum karena belum menggambarkan indikator dan kriteria yang jelas sehingga tidak mudah untuk dijadikan acuan dalam merencanakan dan melaksanakan pendidikan. Di samping itu, rumusan ini juga dapat disorot dari kerangka berpikir yang dijadikan acuan pengambilannya karena al-Quran dan al-Hadits tidak memuat pernyataan eksplisit mengenai tujuan pendidikan. Rumusan tujuan pendidikan didasarkan atas tujuan hidup manusia.
                Berdasarkan kerangka berpikir seperti dikemukakan di atas, perlu dikaji kembali rumusan yang tepat mengenai tujuan pendidik-an dalam perspekti Islam, yaitu suatu rumusan yang mengacu pada al-Quran dan al-Sunnah. Untuk itu, dalam tulisan ini akan dikemukakan secara berturut-turut uraian tentang konsepsi Islam tentang manusia, tujuan hidup dan makna eksistensial manusia, rumusan tujuan akhir pendidikan, serta spesifikasi dari rumusan tujuan akhir tersebut.

B. Konsepsi Islam tentang Manusia
1. Hakikat Manusia
                Berdasarkan ayat al-Quran, dapat di-ketahui bahwa Islam secara tegas menyata-kan bahwa manusia adalah makhluk atau ciptaan Tuhan. Inilah inti pokok kandungan ayat yang pertama diturunkan kepada Nabi Muhammad saw.[4] Manusia bukanlah sesuatu yang ada dengan sendirinya. Ia diciptakan oleh Tuhan dengan tujuan yang telah ditentukan sendiri oleh penciptanya itu.
                Manusia adalah makhluk psiko-fisik, yaitu makhluk yang wujudnya merupakan gabungan unsur jiwa yang bersifat immateri dan tubuh yang bersifat materi.[5] Unsur fisik merupakan alam materi yang padanya berlaku hukum-hukum fisika sebagaimana berlaku pada benda-benda alam lainnya. Ia tersusun dari unsur-unsur api, air, tanah, dan udara, yang senantiasa berada dalam proses tumbuh, berkembang, dan hancur sesuai dengan prinsip-prinsip hukum fisika. Al-Quran menyebutkan bahwa manusia diciptakan dari tanah (turab, thin, ardh, dst.) atau dari air yang hina (ma` mahin) dan dari segumpal darah (‘alaq). Tubuh manusia terdiri atas bagian-bagian yang memiliki fungsi dan tugas masing-masing.[6]
                Sementara itu, unsur jiwa bukanlah alam materi. Padanya tidak berlaku hukum-hukum fisika seperti yang berlaku pada unsur fisiknya. Unsur inilah yang membuat badan menjadi hidup, bergerak, dan melakukan berbagai aktivitas. Jiwa manusia tidak akan hancur seperti halnya badan. Unsur jiwa ini pulalah yang akan mempertanggung-jawabkan segala tingkah laku dan perbuatan manusia kelak di akhirat.
                Kedua unsur, fisik dan jiwa, ini mempunyai peran yang sama-sama penting bagi manusia dalam melaksanakan tugas hidupnya. Tanpa ruh, tubuh manusia hanya tumpukan tulang dan daging yang tidak berarti. Begitu pula, tanpa tubuh, jiwa tidak akan dapat melakukan pekerjaan-pekerjaan yang ditugaskan kepadanya. Tingkah laku dan perbuatan manusia adalah hasil dari interaksi kedua unsur tersebut. Keduanya merupakan dwi tunggal yang mewujudkan suatu pribadi yang utuh selama manusia menjalani kehidupannya. Keberhasilan manusia dalam menjalankan tugas hidupnya sangat bergantung pada kemampuan kedua unsur ini dalam memainkan peran dan fungsinya.

2. Tujuan Hidup dan Makna Eksistensial Manusia
                Untuk memahami tujuan hidup dan makna eksistensial manusia, ada beberapa ayat al-Quran yang perlu dicermati. Di antaranya:
a. Surah al-Ahzab ayat 72 yang berbunyi:
Artinya: Sesungguhnya Kami telah menawar-kan suatu amanah kepada langit, bumi, dan gunung-gunung. Lalu, mereka enggan untuk menerima serta menolaknya. Lantas manusia bersedia memikulnya. Sungguh manusia itu aniaya lagi bodoh.

Ayat ini menyatakan bahwa Allah swt. telah membebani manusia dengan suatu amanah yang mesti dipertanggung jawabkan pelaksa-naannya, yaitu suatu amanah yang tidak dapat diemban oleh makhluk lain seperti langit, bumi, dan gunung.
b. Surah al-Dzariyat ayat 56 yang berbunyi:
وما خلقت الجن والإنس  إلا ليعبدون  ( الذا ريات 56 )
Artinya: Dan tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk mengabdi kepada-Ku.

Seiring dengan ayat di atas, ayat ini menyatakan dengan tegas bahwa tujuan Allah menciptakan dua jenis makhluk-Nya, jin dan manusia, adalah untuk melaksanakan tugas-tugas pengabdian kepada-Nya. Dengan demikian, tujuan hidup manusia adalah mengabdi kepada Allah yang telah menciptakannya. Adalah wajar bila Allah sebagai pencipta menetapkan apa yang diinginkan-Nya dengan penciptaan manusia. Bukanlah hak manusia sebagai makhluk untuk menentukan tujuan hidupnya.
c. Surah al-Baqarah ayat 30 yang berbunyi:

وإذ قال ربك للملا ئكة إنى جاعل فى الأرض خليفة ... ( البقرة 30 )


Artinya: Dan ingatlah ketika Tuhanmu berkata kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku akan menjadikan khalifah di bumi”.

Dari ayat ini, dapat disimpulkan bahwa kedudukan dan tugas manusia adalah sebagai khalifah atau wakil Allah di bumi. Khalifah berarti berarti pengganti, wakil, atau perpanjangan tangan Allah yang dituntut untuk melaksanakan tugas-tugas ilahiah di bumi.[7] Sebagai khalifah Allah, tentu saja, manusia dituntut agar mengetahui dan memiliki sifat-sifat positif yang dimiliki Allah.[8] Dalam pengertian inilah, Ikhwan al-Shafa`, kelompok pemikir Muslim zaman Klasik, menyatakan bahwa manusia sebagai wakil Allah dituntut untuk mengidentifikasi dirinya dengan Allah (tasyabbuh bil-ilah), yaitu dengan memiliki sifat-sifat mulia yang dipunyai Allah serta melakukan berbagai perbuatan dan pekerjaan ilahiah.[9]
                Berdasarkan ayat-ayat yang telah dikemukakan di atas, dapat diketahui bahwa amanah yang dipikulkan oleh Allah swt. kepada manusia ialah melakukan pengabdian kepada-Nya sebagai khalifah atau wakil-Nya. Tentu saja, akan timbul pertanyaan lebih lanjut tentang bentuk dan tata cara pelaksanaan tugas-tugas kekhalifahan yang dimaksud. Untuk memahami tugas-tugas manusia sebagai khalifah, masing-masing manusia perlu mempelajari dan memahami ajaran agama yang telah diberikan Allah. Di antara pernyataan al-Quran yang pantas disimak berkenaan dengan masalah ini ialah:
هوأنشأكم من الأرض واستعمركم فيها .... ) هود 61 (

Artinya: Dialah yang menciptakan kamu dari tanah dan meminta agar kamu menciptakan kemakmuran pada-nya.

Ayat ini mengatakan bahwa Allah sebagai pencipta berharap agar manusia dapat mewujudkan dan memelihara kemakmuran di bumi. Tugas utama dari keberadaan manusia adalah bekerja secara sungguh-sungguh dengan memanfaatkan segala pemberian Allah swt. untuk menunaikan amanah yang dibebankan oleh Allah swt. kepadanya, yaitu dengan melakukan berbagai bentuk perbuatan baik (‘amal shalih) yang dapat menciptakan dan memelihara kemakmuran alam semesta selama ia hidup di bumi ini.[10] Inilah makna kehidupan manusia. Justru itu, keberhasilan manusia dalam menjalankan tugasnya bergantung pada sejauh mana ia berhasil menciptakan karya-karya positif (‘amal shalih ). 
                Pelaksanaan tugas inilah yang membedakan manusia dari makhluk lainnya serta memberikan tempat yang sangat terhormat di sisi Allah sebagaimana dinyatakan dalam al-Quran:
ولقد كرمنابنى ادم وحملناهم فىالبر والبحر ورزقناهم من الطيبات وفضلناهم على كثير ممن خلقنا تفضيلا  ) الإسراء 70 (
Artinya: Dan sesungguhnya telah Kami muliakan anak keturunan Adam (manusia). Kami angkut mereka di daratan dan di lautan (untuk hidup dan mencari rezki). Kami beri mereka rezki yang baik-baik, dan berikan kedudukan yang lebih utama kepada mereka dibanding makhluk lainnya.

C. Tujuan Akhir Pendidikan
                Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa tujuan akhir (ultimate goals, dapat juga disebut tujuan umum) pendidikan menurut pandangan Islam ialah untuk membentuk manusia agar dapat berperan sebagai hamba dan khalifah Allah. Manusia ideal dalam pandangan Islam adalah manusia yang dapat menempatkan dirinya sebagai khalifah atau wakil Allah yang selalu mengabdikan dirinya untuk kepentingan Tuhannya. Manusia seperti itulah yang perlu dibentuk melalui pendidikan. 
                Pembentukan manusia sebagai hamba Allah meniscayakan terwujudnya pribadi-pribadi yang senantiasa mematuhi semua aturan dan ketentuan Allah sebagaimana telah ditetapkan di dalam ajaran agama yang diturunkan-Nya. Dari sisi ini, pendidikan bertugas untuk mengajarkan berbagai ketentuan dan aturan Allah yang berlaku bagi manusia kepada anak dirik serta melatih dan membia-sakannya untuk melaksanakan ketentuan dan aturan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Lebih dari itu, pendidikan bertugas membentuk sikap mental yang menyadarkan manusia akan kedudukannya sebagai ciptaan Allah yang mesti mengikuti kemauan penciptanya.
                Bidang ini merupakan tugas pendidikan dasar yang mutlak mesti diberikan kepada setiap anak didik Muslim. Mengetahui dan melaksanakan semua tuntunan ajaran agama adalah kewajiban individual (fardhu ‘ain). Tanggung jawab sebagai hamba Allah dibebankan kepada manusia secara individual atau perorangan. Oleh karena itu, pendidikan dalam bidang ini harus diberikan kepada setiap individu, tanpa kecuali (apa pun profesi dan pekerjaan yang akan digelutinya dalam masyarakat). Pembekalan pengetahuan agama dan pembentukan sikap kebera-gamaan harus dilakukan terhadap setiap individu manusia, bukan hanya untuk orang-orang tertentu saja. 
                Sedangkan mendidik manusia sebagai khalifah Allah berarti membentuk manusia agar dapat menjadi pemelihara, pengolah, dan pengelola alam sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Allah dalam rangka menciptakan kemakmuran sebagai wujud rahmat Allah bagi semuanya. Tugas pendidikan bagi manusia sebagai khalifah Allah ialah untuk mengajarkan, melatihkan, dan mengembangkan berbagai pengetahuan, keterampilan, dan nilai-nilai yang diperlukan untuk menciptakan kemakmuran bagi alam semesta. Dalam pelaksanaan tugas ini perlu diperhatikan kebutuhan sosial dan perbedaan individual pada masing-masing anak didik. Kebutuhan sosial menghendaki pengelolaan berbagai aspek kehidupan se-perti pertanian, pertukangan, perekonomian, pengobatan, dan lain-lain. Sementara itu, perbedaan individual menghendaki pembinaan spesialisasi dalam berbagai lapangan.
                Tidak semua orang dituntut untuk menguasai semua bidang keahlian dan keterampilan sebab tanggung jawab sebagai khalifah dipikul oleh manusia secara universal, bukan perorangan. Masyarakat manusia tak ubahnya bagaikan sebuah mobil yang memiliki bagian-bagian. Ada bagian yang berukuran besar dan ada pula yang berukuran kecil. Namun, masing-masing memiliki fungsi yang sama pentingnya. Fungsi baut yang kecil tidak kalah pentingnya dari ban yang besar. Begitu pula manusia. Masing-masing orang dituntut untuk mengambil bagian dalam sistem yang ada. Dalam konteks ini, Nabi menyatakan bahwa manusia yang baik adalah mereka yang paling bermanfaat bagi manusia lain.
                Berdasarkan uraian di atas, dapat dipahami bahwa pendidikan yang dituntut oleh ajaran Islam pada tahap awal ialah penyadaran setiap anak didik akan kedudukannya sebagai hamba Allah, sekali gus, membimbing dan melatih mereka untuk melaksanakan secara patuh dan taat segala aturan dan ketentuan Allah yang tertuang dalam al-Quran dan Sunnah Rasul-Nya. Di atas dasar inilah (bukan di samping, apalagi di belakang), kemudian dikembangkan dan dibina berbagai spesialisasi yang diperlukan bagi kehidupan manusia, baik secara individual maupun sosial. Dengan demikian, tidak akan terjadi dikotomi atau pun dualisme dalam pendidikan umat Islam, serta tidak akan muncul sains yang sekuler atau pun agama yang tidak memperhatikan kehidupan dunia.

D. Spesifikasi Tujuan Pendidikan
                Tujuan akhir pendidikan seperti dikemukakan di atas belum bersifat operasional. Ia masih bersifat umum serta tidak mungkin dicapai dengan suatu langkah dan dengan menggarap suatu aspek tertentu. Oleh kare-na itu, dalam pelaksanaannya, diperlukan spesifikasi tujuan akhir tersebut sehingga ia menjadi operasional. Rumusan itu perlu dijabarkan dan dirinci dalam beberapa tahap dan bidang garapan tertentu sehingga tersusun rumusan yang bersifat sementara dan khusus.
                Sehubungan dengan itu, para perancang dan pengelola pendidikan umat Islam dituntut untuk merumuskan berbagai tujuan sementara dan tujuan khusus dalam pelaksanaan pendidikan bagi umat Islam sesuai dengan tuntutan dan tuntunan ajaran Islam. Tentu saja, semua rumusan tersebut mesti disusun secara hirarkis, integral, dan berkesinambungan. Di antara tahap dan aspek yang perlu dipertimbangkan misalnya pendidikan dasar, menengah, dan tinggi, serta aspek jasmani, intelektual, emosional, dan keterampilan dalam bermacam-macam bidangnya.
                Dengan demikian, berbagai rumusan tujuan pendidikan dapat disusun seperti tujuan institusional (kelembagaan), kurikuler (bidang ilmu tertentu), dan instruksional (pokok-pokok bahasan). Misalnya, untuk mendidik seorang ahli pertanian yang berkepribadian Muslim diperlukan lembaga yang biasa disebut Fakultas Pertanian. Untuk itu diperlukan bermacam-macam bidang studi yang terkait. Masing-masing bidang studi tersebut terdiri atas beberapa pokok bahasan. Hanya saja, perlu diingat bahwa pilihan bidang studi dan pokok bahasan perlu dilakukan dengan memperhitungkan fungsi dan urgensi masing-masing dalam pembentukan ahli pertanian Muslim yang profesional. Begitu pula untuk bidang-bidang keahlian lainnya yang diperlukan manusia dalam melaksanakan tugas dan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah.
                Dalam rangka spesifikasi tujuan pendidikan, perlu diperhatikan bahwa dalam melaksanakan tugas dan tanggung jawabnya, seperti yang telah dikemukakan di atas, manusia dibekali oleh Allah dengan berbagai daya (potensi) serta perlengkapan. Daya-daya tersebut terdapat pada unsur jiwa yang memberi kehidupan pada unsur fisik. Sementara itu, perlengkapan yang dimiliki manusia terdiri atas bagian-bagian dan anggota-anggota fisik yang mempunyai fungsi masing-masing.
                Daya-daya jiwa manusia meliputi daya berpikir dan merasa serta daya untuk berbuat. Daya-daya inilah yang membuat manusia dapat bergerak dan melakukan berbagai jenis perbuatan. Unsur ini pula yang menjadi penentu (decision maker) dari perbuatan dan tindakan manusia, yang pada akhirnya menentukan nilai kemanusiaan pada individu yang bersangkutan. 
                Sementara itu, perlengkapan fisik yang dimiliki manusia meliputi organ-organ tubuh, baik yang berfungsi untuk memelihara kehidupan dirinya sendiri maupun yang berfungsi untuk melahirkan karya-karya lainnya. Organ yang memelihara kehidupan mencakup semua organ fisik yang menjamin terpeliharanya kehidupan. Termasuk ke dalam unsur ini adalah organ-organ yang terlibat dalam sistem pernapasan, peredaran darah, pencernaan makanan, dan lain-lain. Tanpa organ-organ ini, manusia tidak mungkin hidup. Sementara organ fisik yang melahirkan karya-karya nyata meliputi anggota-anggota tubuh yang dapat menghasilkan peradaban dan kebudayaan manusial. Unsur utama di sini adalah mulut, tangan, dan kaki. Organ-organ inilah yang dipakai manusia untuk mengolah alam serta menghasilkan berbagai bentuk karya.   
                Pada saat manusia yang bersangkutan dilahirkan, semua perlengkapan dan daya ini diberikan oleh Allah swt. dalam bentuk potensial, bukan dalam bentuk siap pakai. Manusia diciptakan dalam keadaan lemah, baik fisik maupun jiwanya,[11] tetapi memiliki potensi untuk menjadi kuat. Manusia dilahirkan dalam keadaan bodoh, tidak memiliki pengetahuan sama sekali[12], namun berpotensi untuk berpengetahuan. Berbagai daya yang dimiliki ketika ia dilahirkan belum dapat berfungsi sebagaimana diperlukan. 
                Di samping berbagai daya dan potensi yang ada pada dirinya, manusia juga dibekali dengan:
1.    Alam semesta dengan segala isinya sebagai sumber kehidupan dan tempat berkarya. Dalam surah al-Baqarah ayat 29, Allah berfirman:
هوالذى خلق لكم مافى الأرض جميعا ... ) البقرة 29 (

Artinya: Dia (Allah)-lah yang menciptakan semua yang ada di bumi untuk kamu manusia.

2.      Tugas manusia sebagai khalifah Allah di bumi adalah untuk mengolah dan mengelola alam dengan memanfaatkan berbagai fasilitas (sumber daya alam) yang telah disediakan Allah. Justru itu, penguasaan ayat-ayat kauniyah (berba-gai jenis pengetahuan alam) merupakan sesuatu yang mutlak diperlukan manusia Muslim sebagai khalifah Allah. Penguasaan ilmu-ilmu pengetahuan alam bukanlah sesuatu yang dilarang atau tidak sesuai dengan ajaran Islam, tetapi sesuatu yang diharuskan. Kemunduran umat Islam di zaman pertengahan sampai ke zaman moderen ini tidak dapat dilepaskan dari kesalah pahaman tentang hal.
3.    Ajaran agama sebagai petunjuk dan pedoman bagi manusia dalam menjalani kehidupannya. Sebagai pencipta, Allah mengetahui bahwa manusia memiliki keterbatasan untuk menemukan jalan hidup yang benar. Untuk itu, Ia mengirim Rasul-Nya guna menyampaikan dan menjelaskan berbagai ketentuan dan petunjuk sebagai panduan bagi manusia dalam menjalankan tugas-tugas kehidupannya. Manusia tidak mungkin membangun alam ini sesuai dengan kehendak Allah tanpa menghayati dan mengamalkan ajaran agamanya.
Sehubungan dengan itu, pemahan dan penguasaan ajaran agama termasuk sesuatu yang mutlak diperlukan bagi setiap manusia yang telah ditetapkan sebagai khalifah Allah.
Berdasarkan uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa setiap individu Muslim harus memiliki:
1.    Fisik dan jiwa yang sehat, kuat, dan fungsional sehingga masing-masing unsur dapat berfungsi sebagaimana mestinya. Manusia tidak akan dapat berkarya atau beramal saleh tanpa fisik dan jiwa yang sehat.
2.    Pengetahuan tentang ajaran agama, khususnya yang berkaitan dengan kehidupannya sebagai hamba Allah, anggota masyarakat, serta profesi yang ditekuninya. Pengajaran dan pendidikan agama harus diberikan dengan cukup kepada setiap individu, bukan hanya kepada orang tertentu.
3.    Pengetahuan dan keterampilan profesional yang memungkinkannya mengambil bagian dalam kehidupan sosial dalam masyarakatnya. Masing-masing individu dituntut agar memiliki profesi sendiri. Setiap individu harus dapat memberikan manfaat bagi masyarakat lingkungannya serta alam sekitarnya.                             

                Dari uraian di atas, dapat disimpulkan bahwa menurut ajaran Islam, pendidikan harus diarahkan kepada pembentukan manusia yang dapat melaksanakan fungsinya sebagai hamba dan khalifah Allah, yaitu manusia yang sadar sepenuhnya akan kedudukannya sebagai makhluk yang mesti melaksanakan tugas-tugas sebagaimana diinginkan dan diprogram oleh penciptanya. Untuk itu, pendidikan bertugas memberikan pengetahuan dan pengahayatan yang memadai serta berbagai keterampilan yang diperlukan untuk kemakmuran alam semesta.
                Pencapaian tujuan seperti itu menghendaki pengkajian lebih lanjut tentang tahap-tahap dan bidang-bidang garapan yang spesifik sehingga dengan demikian diperlukan berbagai rumusan tujuan pendidikan yang lebih spesifik sesuai dengan tahap dan bidang yang digarap. Ini merupakan tugas setiap pemikir dan pengelola pendidikan umat Islam.




DAFTAR BACAAN
Abdullah, Abdul-Rahman Shalih, Educational Theory; A Quranic Outlook, Umm al-Qura University, Makkah al-Mukarramah, tahun 1402/1982
Arifin, H.M., Ilmu Pendidikan Islam; Suatu Tinjauan Teoritis dan Praktis Berdasarkan Pendekatan Interdisipliner, Penerbit Bumi Aksara, Jakarta, cet. I, tahun 1991
Kartono, Kartini, Quo Vadis Tujuan Pendidikan, Penerbit Mandar Maju, Bandung, tahun 1991
Shafa`, Ikhwan al-, Rasail Ikhwan al-Shafa` wa Khullan al-Wafa`, Dar Shadir, Beirut, tahun 1957
Sindo, Asril Dt. Paduko Sindo, “Konsep Islam tentang Fitrah Manusia dan Implikasinya dalam Pendidikan” dalam Didaktika Islamika, Penerbit IAIN Syarif Hidayatullah, Jakarta, vol. 1 No. 3, Agustus 2000
Tafsir, Dr. Ahmad, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, tahun 1994



                 





[1]Lihat Kartini Kartono, Quo Vadis Tujuan Pendidikan,  (Bandung: Penerbit Mandar Maju, tahun 1991), hal. 17.
[2]Kedua sikap ini dapat dilihat pada masyarakat Sparta dan Athena Kuno. Sesuai dengan pandangan hidup dan budaya mereka, orang-orang Sparta lebih mengutamakan fisik yang sempurna karena mereka lebih mementingkan manusia-manusia yang kuat untuk berperang. Sebaliknya, masyarakat Athena lebih mengutamakan kemampuan intelektual karena, bagi mereka, orang-orang yang cerdas lebih penting.
[3]Lihat Ahmad Tafsir, Ilmu Pendidikan dalam Perspektif Islam, (Bandung: Penerbit PT. Remaja Rosdakarya, 1994), Cet. Ke-2, hal. 46.
[4]Rangkaian ayat 1 - 5 surah al-’Alaq dikenal sebagai ayat-ayat al-Quran yang pertama kali diturunkan kepada Nabi Muhammad saw. Ayat-ayat ini, di samping mengingatkan akan eksistensi Tuhan, juga menyadarkan manusia akan kedudukannya sebagai makhluk atau ciptaan Tuhan itu. Hal ini erat kaitannya dengan kesombongan sebagian masyarakat Arab ketika itu.
[5] Lihat al-Quran, antara lain, surah al-Sajadah ayat 7-9.  Di sini ditegaskan bahwa pada mulanya manusia diciptakan dari tanah (thin). Kemudian, generasi berikutnya diciptakan dari air mani (ma` mahin). Dalam proses selanjutnya, dari air mani itu terbentuk unsur fisik manusia. Pada tahap berikutnya, kepada unsur fisik itu, ditiupkan ruh dari Tuhan. Wujud ini, kemudian, diberi alat pendengaran (al-sam`), penglihatan (al-abshar), dan alat berfikir (al-af`idat).
[6] Dari berbagai tulisan dapat dipahami bahwa unsur fisik yang membentuk manusia bukanlah benda mati (anorganik) melainkan benda hidup. Ketika ruh belum ditiupkan ke dalam unsur fisik ini di dalam kandungan ibu, ia mengalami proses pertumbuhan. Sejak terjadinya pembuahan, embrio manusia tidak bersifat statis atau mati. Keadaan ini menunjukkan bahwa di dalam unsur fisik tersebut ada unsur kehidupan (al-hayat). Menurut penjelasan sebuah hadis, kondisi demikian berlangsung selama empat bulan. Setelah masa tersebut berlalu, Tuhan meniupkan ruh (unsur jiwa). Justru itu, sering pula dinyatakan bahwa manusia terdiri atas tiga unsur, yaitu unsur fisik, al-hayat, dan ruh.
[7] Banyak orang keliru memahami kata khalifah yang terdapat di dalam ayat ini. Sering kata ini diartikan pemimpin. Dalam literatur Islam, kata khalifah digunakan dalam dua pemakaian, yaitu khalifat Allah dan khalifat Rasul Allah. Dalam pengertian pertama, kata ini berarti wakil Allah di bumi, yaitu dalam melaksanakan tugas-tugas pembangunan dan pemeliharaan alam semesta. Yang bertugas sebagai khalifah Allah adalah manusia secara keseluruhan. Sedangkan dalam pemakaian kedua, kata khalifah berarti pengganti Nabi Muhammad saw. sebagai pemimpin umat Islam. Khalifah dalam pengertian ini hanya dipakai untuk orang-orang tertentu yang dipercaya sebagai pemimpin umat atau negara Islam seperti Abu Bakar, Umar, dst. Tampaknya, kekeliruan pengertian kata khalifah timbul karena sebagian orang tidak membedakan kedua pemakaian ini.
[8] Upaya manusia untuk memiliki sifat-sifat serta berprilaku dan berbuat seperti perbuatan Allah inilah yang disebut taqarrub ila Allah, mendekatkan kualitas diri dengan sifat-sifat dan kualitas Allah karena wakil (khalifah) Allah yang baik mesti bersikap dan bertindak seperti Tuhan yang diwakilinya. Tentu saja, perlu ditegaskan segera bahwa manusia tidak mungkin menyamai Allah. Bahkan, kedekatannya pun bersifat relatif. 
[9] Lihat Ikhwan al-Shafa`, Rasail Ikhwan al-Shafa` wa Khullan al-Wafa`, (Beirut: Dar Shadir, 1957), juz I, hal. 427.
[10] Di sini perlu ditegaskan bahwa menjadi pekerja yang profesional dalam berbagai bidang adalah perintah Tuhan yang mesti dilaksanakan manusia. Kehidupan di bumi ini tidak akan semarak dan makmur tanpa petani, dokter, teknisi, ekonom, dan lain-lain yang profesional. Kemunduran umat Islam pada periode tertentu dalam sejarahnya berhubungan erat dengan perkembangan pandangan yang mengesampingkan bidang-bidang ini dan tenggelam dalam ibadah yang sempit. Kehidupan dunia bukan sekedar jembatan menuju akhirat, melainkan ladang yang perlu digarap dan diolah dengan baik sehingga dapat memberikan hasil optimal sekarang dan pada masa yang akan datang.
[11] Lihat al-Quran surah al-Nisa` ayat 38 dan surah al-Rum ayat 54.
[12] Lihat al-Quran surah al-Nahl ayat 78.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar